MENGEJAR NENEK

Ketika anak muda sibuk dengan kegiatan kuliah, shopping, dugem, nonton bioskop dan sebagainya tapi bagi keempat preman ini, mangkal adalah pekerjaan sehari-hari. Mereka sedang mencari mangsa. Lama mereka menunggu namun tidak ada yang lewat. Tiba-tiba ada seorang nenek yang berjalan tertatih-tatih dengan membawa tongkatnya. Mereka pikir nenek itu pasti tidak punya uang. Sehingga percuma mengharapkan uang darinya. Tanpa sadar, nenek itu tidak sengaja menjatuhkan uang. Keempat preman menunggu nenek itu berjalan agak jauh dan mengambil uang itu. Uang itu hanya Rp 2000 tapi sangat berarti bagi mereka. Mereka berebut sehingga sepakat beradu lari. Start dan finishnya dari tempat itu. Ternyata si Bimo memenangkan lari dan dia terus berlari tanpa henti walau sudah finish. Dia berniat mencari nenek itu untuk mengembalikan uangnya. Dia merasa kasihan. Namun di jalan dia dihadang sekomplotan genk preman yang lain. Mereka menginginkan uang itu. Komplotan itu sebelumnya telah diberi tahu tiga orang temannya yang kalah tadi. Bimo bersikeras mempertahankan uangnya. Di komplotan itu ada adiknya. Umurnya 19 tahun selisih 2 tahun darinya. Dia meyakinkan adiknya agar bersedia membawa uang itu ke nenek tadi. Dia memberitahukan ciri-cirinya. Adiknya percaya pada kakaknya. Dia menangkap uang Rp 2000 yang diremas Bimo dan membawanya pergi. Dua orang dari komplotan itu mengejar Cilik, adik Bimo. Bimo dihajarnya dan dinyatakan keluar dari genk preman serta tidak boleh memasuki kawasan situ. Mereka meninggalkan Bimo yang babak belur. Bimo tetap berusaha berjalan mengejar nenek. Cilik terbebas dari kejaran dua komplotan karena dia bersembunyi di celah sempit yang tertutupi drum. Cilik terus bertanya pada orang sekitar kemana arah nenek itu berjalan. Ternyata dia sempat salah jalan sehingga harus balik lagi. Dia bertemu Bimo dan berjalan mencarinya bersama-sama. Tiba-tiba..mereka menemukan seseorang yang tergeletak di jalan. Orang itu seperti ciri-ciri si nenek. Ternyata benar itu nenek yang mereka cari. Mereka kaget ketika melihat wajah pucatnya. Mereka sangat mengenalnya. Nenek itu adalah ibunya yang sempat terpisah bertahun-tahun. Karena dulu si Bimo dan Cilik diambil secara paksa oleh komplotan preman untuk dipekerjakan menjadi preman. Bimo dan Cilik membawa ibunya ke tempat yang tidak panas. Bimo menjaganya sementara Cilik disuruh membeli minum dan makan dari uang itu. Karena uangnya tidak cukup sehingga Cilik kembali dengan tangan kosong. Kemudian berganti Bimo yang mencoba membeli. Dia memelas kepada penjual makanan agar membawa makanan dan minuman denagn hanya Rp 2000. Akhirnya Bimo membawa makanan dan minuman tetapi makanannya tanpa lauk. Mereka segera memberi minum ibunya yang kehausan dan kelelahan. Selang beberapa saat ibunya siuman dan mencari suaminya. Ibunya tidak mau memakan makanan itu karena dia mendapatkan uang dari menjual koran bekas itu untuk membelikan makanan suaminya yang sedang sakit parah. Ibunya sudah berhari-hari tidak makan. Namun sialnya mereka terlambat. Ayah Bimo dan Cilik telah meninggal di dalam becaknya. Becak itu adalah harta berharga mereka. Becak itu adalah rumah satu-satunya. Dengan penuh kepedihan Bimo dan Cilik menguburkan ayahnya di sekitar situ. Terakhir mereka bertiga memakan nasi tanpa lauk itu bersama-sama. Bimo dan Cilik berjanji akan meneruskan pekerjaan ayahnya menjadi tukang becak untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

THE END

2 thoughts on “MENGEJAR NENEK

    1. iyo melas2 ya cerpenku haha…
      Tenang ntar tak buatin yang hepi ending..^^
      hepi ending tu kan biasanya terakhire nangis2 itu kan? wakakakaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s